Kamis, 08 Agustus 2013

His Peculiarity

Sejak perasaan itu datang dia berpendapat tuk mengajakku pergi, dia bilang kami akan pergi ke tempat yang indah, mungkin seindah taman syurga. Aku tau tempat itu dan aku tak percaya, mana mungkin kami bisa pergi ke tempat itu, tempat yang sangat jauh dan penuh rintangan itu.

Waktu demi waktu dia tetap saja membicarakan tentang tempat itu, memaksaku tuk pergi kesana. Sudah berkali-kali pula aku menolak ajakannya tapi dia tetap berusaha membujukku. Aku lelah, dan aku pun mulai terhasut, terhasut cintanya.

Kami berjalan secara berdampingan, saling berpegang tangan, dan kami bahagia. Kami tetap bahagia walau terkadang kaki kami menginjak kerikil-kerikil bahkan tak jarang kami tertusuk duri dari semak-semak belukar yang kami lintasi dan kami tetap bahagia karena kami tau bahwa kami berdampingan.

Diperjalanan dia terjatuh di sebuah lobang, lobang yang kedalamannya hampir menutupi tubuhnya itu membuatnya sulit untuk meraih dataran yang seharusnya kami pijak. Aku coba menjulurkan tangan sebisa mungkin dan dia menolak. Aku tak mengerti mengapa dia menolak uluran tanganku, apa dia tak ingin naik dan melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan kami?  Tiba-tiba dia memintaku untuk turun dan jatuuh ke lobang itu. sebenarnya apa yang ada dipikirannya? Makhluk tuhan yang ini aneh dan keanehan itu terkalahkan oleh rasa yang ada dihati. Sejenak terlintas dibenak pemikiranku, mungkin pemikirannya tak masalah kami berada di tempat manapun asal kami bersama. Dan aku turun.

Kedatanganku ke dalam lobang disambut oleh senyumannya, itu sudah cukup membuatku sedikit merasa tak khawatir akan apa yang terjadi nanti. Yang kami rasa bahwa kami tetap berdampingan walau terjebak dalam lobang ini.

Kami melewati waktu dalam lobang dan ku rasa lobang ini semakin dalam tapi ku perhatikan tak ada tanda-tanda kesedihan dalam wajahnya bahkan wajahnya terlihat sangat bahagia, tak pernah ku lihat sebelumnya wajah sebahagia itu darinya. Berarti benar pemikiranku waktu itu, bahwa dia tak peduli dengan tempat seperti apa kita berada yang penting kami tetap berdampingan.

Kuasa Tuhan. Tak disangka dia sudah berada di atas, di dataran yang seharusnya kami pijak. Perasaanku sangat bahagia, mungkinkah kami akan meneruskan perjalanan kami ke tempat itu. Tuhan menolong kami itu berarti Tuhan meridhoi.

Dia pergi, yah dia pergi, dia berjalan sendiri ke depan tanpa menolongku tuk naik ke atas. Hei, hal aneh apa lagi yang dia lakukan, dia meninggalkanku disini, di lobang ini. Dia tidak bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya;menyuruhku tuk masuk ke lobang.

Semenjak itu mata tak pernah lelah tuk mengeluarkan air yang tak habis terdorong tuk keluar, telinga pun tak pernah mengeluh tentang kerasnya suara yang dihasilkan pita suara, dan tangan pun tak pernah lelah tuk membersihkan air mata yang melintasi pipi.

“Apa kau lupa dengan tempat tujuan kita?” “Pelaminan…”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar