Jumat, 16 Agustus 2013

Kisah Lalu dan Kerinduan

Setiap pertemuan kalian abadikan dalam jepretan dengan smartphone atau camera. File demi file berformat jpg. atau jpeg. atau lainnya itu anda unggah di jejaring sosial, terlihat jelas gambar disana, kebahagiaan; canda tawa; narsis; dan apapun itu. Meskipun saya tau tak ada maksud anda tuk membuat saya menangis tapi anda telah berhasil membuat saya menangis tentang kerinduan. Saya merindukan anda yang pernah saya kecewakan, merindukan bermain dengan anda, sholat berjamaah dengan anda, belajar dengan anda, makan dengan anda, dan semua aktivitas yang dulu pernah saya lewati dengan anda;saya rindu. Terima kasih telah menjadi actor dan aktris dalam perfilm-an kehidupan pribadi saya dan maaf atas kesalahan saya menjalani peran dalam film itu. Saya benar-benar merindukan anda semua.

Ustadzah Rani, wanita mungil berparas cantik dengan tutur kata yang lembut. Kaifa halukum ustadzah? Pertanyaan sederhana yang pertama kali ustadzah ajarkan di kelas satu dulu, saya msih mengingat hari itu. Saya merindukan ustadzah, saya rindu sekali dipeluk dengan ustadzah. Terima kasih ustadzah, terima kasih atas semuanya. Keberkahan Allah selalu menyertai langkah ustadzah.

Ustadz yang pernah menjadi orang tua laki-laki saya, ustadz asmat. Gimana kabarnya ustadz? Hadiah yang ustadz berikan berupa kertas berisi saran-saran masih ada, masih sering saya lihat dan baca. Sekarang kertas itu menjadi hal terpenting buat saya, memotivasi saya untuk terus menjalani hidup. Terima kasih ustadz, terima kasih sudah mendidik saya. Semoga selalu disayang Allah.

Apa kabar ustadz yusuf? Entah ustadz masih mengenal saya atau tidak, saya yang pernah datang ke rumah ustadz untuk memberikan dua kotak kue, untuk salam perpisahan saya yang tak kembali lagi sebagai santri, ketika hari perpulangan santri di bulan ramadhan . Saya masih teringat jelas kekecewaan ustadz pada hari itu, maafkan saya ustadz saya tidak bisa bertahan menjadi santri disana, sekali lagi maaf. Dan terima kasih sudah memberi ilmu fiqih dengan penyampaian yang ringan, membuat saya mudah mengerti. Semoga pahala terus mengalir untuk ustadz karena ilmu ini.

Ustadzah dengan jilbab panjang yang membuat terlihat anggun, tutur kata yang lembut, wanita sholehah dan itu Ustadzah Masyithoh. Ustadzah yang mengajar hadits waktu saya kelas satu. Apa kabar ustadzah? Saya harap masih ada hadiah untuk ulang tahun ustadzah yang saya titipkan lewat ummi ustadzah. Maaf saya tidak memberinya langsung karena saya terburu-buru untuk segera pulang. Saya tidak tau setelah liburan selesai ustadzah mencari saya atau tidak, mungkin hanya untuk berucap terima kasih. Maafkan saya ustadzah, Tidak saya teruskan jihad saya disana, sekali lagi maafkan saya dan terima kasih atas semangat-semangat yang dulu ustadzah berikan ketika saya menjadi santri. Semoga Allah SWT. selalu melindungi ustadzah.

Dan terima kasih atas semuanya, atas asatidz dan asatidzah yang tak bisa saya sebutkan satu-persatu karena bahasa yang terlalu panjang, yang jelas saya mengucapkan terima kasih atas ilmu-ilmu yang telah diajarkan dan terima kasih telah mendidik saya, semoga Allah SWT. selalu melimpahkan rahmatnya untuk engkau.

Hanya tulisan ini yang bisa menjadi alternative pengakuan saya tentang rindu yang tak bisa menatap asatidz, asatidzah dan teman-teman semua di Al-Ma'had Daarul Uluum Lido. Kalaupun saya dipertemukan dengan kalian untuk mempertanggungjawabkan tulisan ini, biarkan bahasa air mata saya yang menjelaskannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar