Senin, 05 Agustus 2013

Menangis

Ah, lagi-lagi menangis. Lagi-lagi menangis. Bangun tidur menangis, di kamar mandi menangis, di kamar menangis, lagi jalan-jalan menangis, lagi kumpul menangis. Jangan kau tanyakan sampai kapan aku seperti itu, aku tak tau. Semua bergulir begitu saja. Air mata mengalir begitu saja. Sudah, sudah ku coba untuk menahanya. Sudah ku coba dengan sekuat tenaga. Tetap saja airmata itu keluar.

Mengapa? Kau Tanya aku mengapa seperti itu? Kau amnesia? Atau kau sedang lelucon? Tak perlu lah ku bahas lagi dalam tulisan ku kali ini. Semuanya sama, isinya hampir sama dan intinya pun sama dengan tulisan-tulisanku yang lain. Apa lagi kalo bukan masalah itu.

Aku bisa mengontrol emosi teman-teman, tapi tidak untuk mengontrol emosiku. Aku bisa tertawa untuk teman-teman tapi tidak untuk diriku. Bahkan aku bisa mengubah perasaan teman-teman, tapi tidak mengubah perasaanku. Kalau kau Tanya kembali mengapa, hanya satu jawabannya ‘Entahlah’.

Dulu, waktu aku umur 5 tahun ada teman kaka sepupuku yang kala itu mereka sudah duduk dibangku SMA. Teman kaka sepupuku itu menangis tersedu-sedu, sampai matanya terlihat bengkak. Dalam hati aku bertanya ‘mengapa kakak itu menangis?’ aku sengaja menguping pembicaraan mereka berdua. Dan! Tertangkap jelas ucapan demi ucapan yang kaka itu lontarkan, ternyata karena cinta. Aku mulai bertanya kembali dalam hati ‘sesakit itukah cinta? Sesedih itukah cinta? Bukankah cinta itu indah yang seperti ku lihat di depan layar televisi. Entahlah tapi saat besar nanti tak akan ku buat teman-teman ku menangis seperti itu’.
Sekarang aku sudah SMA bahkan sudah lulus dan aku merasakannya. Merasakan perihnya mata karena cinta. Apalagi kalau bukan airmata yang selalu mengalir. Ternyata benar cinta itu sakit. Bahkan airmata pun tak kuat menahan tetesannya.

Aku ini cengeng tapi tak untuk teman-temanku. Kalau aku cengeng depan mereka, lalu siapa lagi yang mengembalikan perasaan mereka? Aku ga bisa lihat mereka sedih karena aku tau aku akan ikut menangisi cerita yang mereka paparkan. tapi setelah itu, aku tidak ingin melihat mereka berlarut dalam kesedihannya, aku ingin mereka merasa ada aku dan teman-teman yang lain yang peduli tentang kebahagiaan dia. Aku rasa memang itu gunanya teman, saling membagi kebahagiaan.

Tapi untuk kehidupanku, biarlah selalu menjadi kesedihan. Ini akan menjadi pengalaman buat teman-temanku agar tak salah jalan nantinya. Aku ikhlas untuk menjadi orang yang pertama berjalan menghadapi rintangan itu. Seikhlas aku mencintai dia…


July 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar