Senin, 05 Agustus 2013

Ter-dua-kan

L
angit mulai gelap, awan hitam pun mulai berdatangan menutup sang mentari kala itu;teduh. Seolah-olah menggambarkan suasana hati. Kami yang sedari tadi berdiam diri dan tak ada satu pun yang berani memulai percakapan tetap saja asik memeluk diri sendiri tuk menghangatkan tubuh yang diterpa angin.

“Kenalkan, Dia kekasihku” ucap sang pria yang akhirnya memecah kebisuan kami bertiga di taman.

“Aku mencintainya, sama seperti aku mencintaimu. Apakah kau bisa menerimanya?” ucapnya lagi.

Wanita yang sedari tadi menjadi lawan bicaranya itu hanya diam tertunduk dengan sesekali ia menghela nafas. Dingin.

“hei, bicaralah!” sontak pria itu dengan nada sedikit tinggi.

“Baiklah, Aku akan menerima semuanya. Jika kau menginginkan aku dan dia ada disampingmu, aku bisa terima. Agama kita pun tak melarang ini bukan? Aku tau kamu kan adil.” Sahut wanita itu datar.

“Kau sungguh tak keberatan dengan kedatangannya di kehidupan kita?”

“Tidak, Aku tidak keberatan.  Mungkin ini saatnya Aku belajar membagi kebahagiaan ku jikalau sudah berkeluarga nanti. Tak ada yang tau bukan tentang masa depan nanti seperti apa? Mungkin saja nanti suamiku kan melakukan ini. Dan ketika ia melakukannya, kan ku pastikan Aku pasti sudah siap menerima kenyataan.” Sahut sang wanita dengan raut wajah tersenyum dan menahan airmatanya.

Kebisuan pun menerpa kembali diantara kami bertiga. Suara daun yang tersapu oleh angin dan orang lalu lalang dengan canda tawa mereka kala itu membuat kami tetap saja berdiam diri seolah-olah tak peduli dengan keadaan sekitar.

Dengan hitungan detik pun pria itu memeluk kekasih lamanya dan berkata “I do love you.”
Rasa berkecamuk wanita itu tak terbendung. Tak kuat lagi menahan airmata yang sedari tadi ditahannya. Kemuadian wanita itu pun terkejut mendengar suara adzan. lekas ia menghapus airmata dan beranjak tuk menunaikan ibadah sholat subuh.


Saturday, July 06, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar