Rabu, 04 Juni 2014

One Soul, Two Bodies


“Mungkin tak sengaja terucap atau memang harapan yang telah usang? Mungkin terucap ketika tak ada lagi harapan atau memang itu harapan murni? Emosi, putus asa atau memang ingin mencintainya dalam jasad berbeda?”

Tuhan, siang ini. Tepat tanggal 24 Mei 2014 kami bertemu. Pertemuan kami di dalam sebuah bus kota, tepatnya di atas bangku bermuatan untuk dua orang barisan kelima. Memang terdengar tak modern apalagi terjadi di bus Jakarta yang tingkat kelayakan nya dibawah standar romantis.

Pria dengan potongan rambut biasa, berkulit coklat khas Indonesia,  terlihat tidak terlalu tinggi memakai kaos hitam, celana jeans biru, sepasang sepatu skate, tas ransel yang dipangku, dan blackberry di tangannya.

Dia bertanya tentang alamat yang dia tuju, kebetulan kami turun di terminal yang sama sedikit lega karena bisa membantu orang lain. Niat awal hanya membantu dia yang kesusahan mencari alamat menjadi  menjalar ke ‘personal question’.

Dia seorang pendatang dari pulau Sumatera, sedang dilibatkan kontrak perusahaan untuk melanjutkan kuliah di universitas swasta di Bekasi, Teknik Agrobisnis Perkebunan Kelapa Sawit. Perusahaan bukan hanya butuh skill dia, mereka butuh title untuk nama dia.

Rasanya sudah biasa bersenda gurau dengan orang asing. Tidak ada yang aneh, hanya berniat untuk menemani perjalanannya saja. Rasanya pun sama saja, mengakhiri pertemuan dengan kalimat “Saya duluan Kak/Pak/Bu/Mba/Mas..”. Tapi kami berakhir plus dengan pin BBM.

Sebelumnya kami masih menjalin komunikasi dan berhubungan baik, sama seperti pertemuan awal yang happy communication but nyatanya tidak untuk sekarang. Rasanya sulit dipercaya untuk menulis kalimat selanjutnya, pikiran aneh apa yang bersarang di otak ‘Kau sama dengan Dia. Dia yang masih menempatkan posisi terakhir pria yang ku cinta’.

Awal perbincangan kita, karateristik anda yang semakin lama semakin saya mengerti, bahkan sampai accessories yang anda pakai pun, mengapa itu terasa sama adanya. Sebenarnya siapa anda? Dia dengan topeng? Jika bukan, mengapa terasa begitu sama dengannya?

Tuhan, apa saya pernah berdoa tuk dikirimi seseorang yang berjiwa dan satu pemikiran dengan dia? Tuhan, apa memang benar adanya tentang manusia yang memiliki 7 kembaran? Atau ini memang tentang takdir?

Tuhan, Engkau Sang Maha Berkehendak, saya berterima kasih atas kirimannya. Kirimannya memang terbungkus dengan rapih dan sesuai keinginan saya yang mungkin pernah terpikir tuk memiliki dia dengan jasad berbeda. Tapi saya tidak bisa mencintai pria itu, cinta yang diberikannya memang sama, karateristiknya memang sama tapi masih hanya mencintainya, Tuhan. Maaf…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar